Powered by Blogger.
Showing posts with label resensi. Show all posts
Showing posts with label resensi. Show all posts

Friday, February 25, 2011

1 Perempuan 14 laki-laki - Djenar Maesa Ayu
Buku terbaru Djenar Maesa Ayu, 1 Perempuan 14 Laki-laki (telah) di-launching pada 14 Januari 2011 lalu, bertepatan dengan ulangtahun penulis yang juga sutradara film itu. Tapi, buku itu sendiri sudah bisa di dapat di toko buku pada: 11-1-11 (baca: tanggal selas bulan satu tahun duaribu sebelas). Sebelum buku ini, buku terakhir Djenar adalah Cerita Pendek tentang Cerita Cinta Pendek, hampir lima tahun lalu. Sudah pasti, terbitnya buku baru Djenar ini, bisa menjawab rasa penasaran pembaca yang menyukai karya-karyanya: seperti apa buku ini? Adakah yang baru atau berubah?

Satu point yang menarik adalah: dalam buku 1 Perempuan 14 Laki-laki ini, Djenar berkolaborasi dengan 14 orang laki-laki, dengan latar profesi yang beragam. Saya, kebetulan ada di antara ke 14 “laki-laki yang beruntung” itu. Eghmmm. Saya dan Djenar bisa menyelesaikan satu cerpen: Kunang-kunang dalam Bir. Cerpen ini, sempat muncul di Kompas.

Cerpen-cerpen lain ditulis Djenar bersama Enrico Soekarno (Cat Hitam Berjari Enam), Indra Herlambang (Menyeruput Kopi di Wajah Tampan), Sardono W Kusumo (Rama Raib), Totot Indrarto (Kupunyakupu), Jerinx JRX (Kulkas. Dari. Langit.), Arya Yudistira Syuman (Matahari di Klab Malam), Sudjiwo Tedjo (Rembulan Ungu Kuru Setra), Richard Oh ( Nafas dalam Balon Karet), Nugroho Sukmanto (Bukumuka), Lukman Sardi (Ra Kuadrat), Robertus Robet (Dijerat Saklar), Romo Mudji Sutrisno (Polos), Butet Kartaredjasa (Balsem Lavender). Hmm, melihat latar belakang nama-nama itu, apa yang langsung Anda bayangkan, bukan tentang Djenar-nya tentu saja, tapi tentang bukunya!

Kita kenal Lukman Sardi seorang aktor film, Jerinx JRK adalah salah satu pentolan band Superman is Dead, Sudjiwo Tedjo seniman dan intelektual serba komplit, Sardono W. Kusumo adalah penari dan koreografer tari yang banyak mempengaruhi sejarah dan pertumbuhan tari Indonesia kontemporer saat ini.

Apa kata Djenar, perihal bukunya ini, baiklah, saya bocorkan sedikit pengantar yang ditulisnya untuk buku 1 Perempuan 14 Laki-laki:

Saya selalu percaya bahwa inspirasi bukanlah sesuatu yang bisa saya datangkan, namun inspirasilah yang mendatangi saya. Maka disiplin yang saya lakukan adalah, selalu setia di depan laptop ketika sedang ada waktu senggang sehingga akan selalu siap mentransformasikan insipirasi ke dalam teks ketika ia datang. Selanjutnya, biarkan diri saya menjadi objek dan teks yang menjadi subjeknya. Biarkan teks itulah yang menjadi raja.

Hal inilah yang saya tawarkan kepada Agus Noor: Menulis tanpa konsep. Seperti yang Agus Noor sudah tulis di blognya dengan judul “Kunang-Kunang dalam Bir” –sesuai dengan judul cerpen yang akhirnya berhasil kami tulis berdua– kami akan mencoba menulis bergantian kalimat perkalimat. Begitulah kesepakatan kami sambil menikmati secangkir kopi hangat.

Sebelum malam mulai larut, dan kopi sudah berganti bir yang dengan segera berpindah ke perut, saya terinspirasi untuk menulis kalimat pertama. “Di kafe itu, ia meneguk kenangan.” Setelah itu saya menyodorkan laptop ke arah Agus Noor untuk dibaca dan dilanjutkan. Demikian seterusnya. Awal kesepakatan untuk menulis bergantian kalimat perkalimat, akhirnya kami bebaskan kepada perasaan kami saja. Apabila baik saya maupun Agus Noor masih asyik menulis lebih dari satu kalimat, tidak ada salah satu dari kami yang berusaha menghentikannya.

Jika Agus Noor mengumpamakan proses kreatif kami sebagai dua petinju yang sedang saling menukar jurus-jurus pukulan, saya lebih senang mengumpamakannya sebagai dua orang yang sedang kasmaran sehingga selalu ingin memahami dan menyenggamai masing-masing pikiran. Selalu ingin berdekatan dengan bibir yang saling berpagut pada lidah yang melulu ingin memenuhi tiap ruang kosong. Dan dalam situasi seperti itu, pikiran sepasang manusia yang kasmaran ini pun bolong. Hanya intuisi yang menggerakkan tiap indera perasa. Mereka lupa dan merdeka, karena ada faktor lain yang bekerja, yaitu rasa kasmaran atau cinta. Cinta, yang saya perumpamakan sebagai teks inilah satu-satunya subjek yang menuntun gerakan jari kami berdua ketika menulis bersama.

Kami menyelesaikan satu cerpen hingga dini hari. Walaupun saya sudah terbiasa menulis tanpa konsep, namun berhasil menulis berdua dengan cara seperti itu tetap saja membuat saya takjub. Saya pun mulai berpikir, bagaimana jika saya melakukannya bukan dengan seorang penulis? Apakah cara menulis tanpa konsep seperti itu akan berhasil juga?

Akhirnya saya menghubungi beberapa sahabat, yang dengan segera menyambut ide saya dengan hangat. Kali kedua saya menulis dengan Totot Indrarto, seorang krikitus film yang sering memanggil saya dengan sebutan monyet. Hal yang terjadi selanjutnya, tidak berbeda dengan apa yang saya lakukan dan rasakan dengan Agus Noor. Kami berhasil menyelesaikan satu cerpen dalam waktu satu hari. Saya ingat benar, kami memulainya pukul delapan malam hingga jam empat pagi. Saya pun semakin percaya diri dan selama lima hari berturut-turut menulis bergantian dengan beberapa sahabat laki-laki: Sudjiwo Tedjo, Sardono W. Kusumo, Enrico Soekarno, Indra Herlambang, dan kakak tertua saya, Arya Yudistira Syuman.

Menulis bersama yang bukan penulis bagi saya adalah sebuah pengalaman yang sangat mengesankan. Banyak medium di luar teks yang begitu menggugah perasaan. Salah satunya adalah menulis dengan Mas Sardono. Ketika Mas Sardono berbicara, ketika ia mengerjapkan matanya setiap kali mencoba mengingat satu peristiwa, ketika tangannya bergerak menirukan gaya sebuah karya tari, ketika pada akhirnya saya mengantar dari coffeewar menuju rumahnya yang juga masih berada di daerah Kemang dengan berjalan kaki, segalanya mengalir bagai sebuah tarian. Pada saat itu pun saya segera sadar, jika Mas Sardono tengah menulis dengan begitu apik lewat tubuhnya dan hal inilah yang harus segera saya tumpahkan ke dalam tulisan.

Pengalaman yang cukup unik juga saya rasakan ketika bertemu Jering, salah satu personel band Superman Is Dead, yang juga dikenal dengan inisial JRX. Tidak seperti sahabat-sahabat lain, saya belum pernah berjumpa dengan Jering sama sekali. Kami saling mengenal lewat salah satu situs pertemanan di Internet. Yang menarik saya untuk mengajaknya bekerja sama, tidak lain karena tulisan-tulisan pendeknya di situs pertemanan tersebut. Pada satu kesempatan berlibur dengan anak-anak ke Bali, Pulau Dewata tempat Jering berdomisili, saya pun menyempatkan waktu untuk menulis bersamanya. Di sebuah Diner miliknya yang riuh, kami tidak saja berusaha memahami teks yang kami saling ketik, namun lewat teks jualah kami mengawali awal persahabatan yang begitu instan. Dan cukup dua kali pertemuan yang kami butuhkan. Satu cerpen pun berhasil kami selesaikan.

Apakah semudah itu?

[Tulisan tersebut di atas merupakan  catatan, komentar ataupun review Agus Noor atas karya Djenar Maesa Ayu ini, untuk mengunjungi blog Agus Noor, silahkan kesini :: http://agusnoorfiles.wordpress.com]

Thursday, February 24, 2011

Download ebook 40 Days in Europe karya Maulana M. Subhan
Sebuah buku yang berjudul 40 Days In Europe ini merupakan hasil karya seorang siswa lulusan SMAN 3 Bandung dan Teknik Industri ITB bernama Maulana M. Syuhada. Kini, ia melanjutkan pendidikannya di Technische Universitaet Hamburg. Buku ini merupakan buku non-fiksi, yaitu salah satu pengalaman dalam kehidupan sang pengarang. Sekilas, jika dilihat dari judul, kita mungkin mengiranya sebagai buku berjenis fiksi dan bercerita tentang petualangan dan fantasi. Namun, dugaan tersebut tidak sepenuhnya benar. Buku ini memang bercerita tentang petualangan, tetapi bukan petualangan di dunia fantasi, melainkan petualangan dalam hidup yang benar benar terjadi.

40 Days in Europe, bertema petualangan sebuah kelompok angklung mengharumkan nama Indonesia di tanah Eropa. Buku ini menceritakan mengenai 35 orang asal Indonesia yang tidak pernah menyerah dalam membawa misi Expand Sound of Angklung. Walaupun didera banyak cobaan hingga dihadapkan ke pilihan yang sulit yaitu menggelandang di Eropa ataukah berenang melewati Selat Inggris, mereka tidak pernah menyerah. Alur buku yang tidak monoton membuat kita menikmati buku ini. Dalam buku ini, tidak hanya diceritakan saat mereka sudah berada di Eropa saja. Tetapi, buku ini menceritakan sejak melayangkan surat mengenai ESA 2004 ke salah satu alumni KPA (Keluarga Paduan Angklung) yang tinggal di Hamburg meminta bantuan, lalu mulai dari mengubungi kota-kota di Eropa untuk mengadakan konser atau acara, mencari festival yang akan diikuti, mencari dana, bahkan hingga alat transportasi antar negara. Setelah itu semua, baru diceritakan sejak mereka tiba di Eropa, mulai dari hari pertama hingga hari ke empat puluh. Latar dalam buku ini antara lain hari-hari ketika masih di Bandung dan hari-hari ketika sudah berada di Eropa. Latar tempatnya yaitu berbagai negara dan kota di Eropa.

Buku ini, tidak hanya sekedar sebuah buku yang berisi tulisan-tulisan. Tetapi, buku ini juga mengajarkan hal-hal tentang hidup ini. Begitu banyak pelajaran dan hikmah yang bisa diambil dari buku ini, seperti mengajarkan kita bagaimana harus sabar dalam melewati liku-liku hidup, mempersiapkan segalanya dengan matang, kekompakan dan kebersamaan yang erat dalam sebuah kelompok, mengambil keputusan di saat yang genting, dan banyak lagi pelajaran lainnya yang dapat kita ambil dari buku ini.

Setiap buku tentu saja memiliki kelebihan dan kekurangan. Untuk beberapa kelebihan buku ini sudah disebutkan di atas seperti alur yang tidak monoton dan pelajaran yang begitu banyak dapat diambil. Kelebihan lainnya antara lain disertakannya beberapa foto dokumentasi ketika berada di Eropa sehingga semakin menarik saja. Gaya bahasa yang digunakan di buku ini juga sesuai dengan gaya bahasa kita sehingga mudah dimengerti. Salah satu hal yang saya senangi dari buku ini adalah, buku ini ketika sudah memasuki bagian di Eropa, dituliskan menurut hari dan negaranya. Misalnya, hari pertama di Frankfurt, nah begitu hari kedua, langsung ganti lagi, sehingga tidak monoton.

Namun, setiap buku pasti memiliki kelemahan. Salah satu kelemahan buku ini adalah, bagian awal, ada bagian yang agak membosankan seperti email yang tidak terlalu penting yang dicantumkan ataupun percakapan di yahoo messenger yang agak membosankan. Namun, secara keseluruhan buku ini sudah sangat baik. Apalagi ditambah dengan penggantian buku dengan hadiah apabila buku ini ada cacat.

Kepengarangan buku ini, gaya bahasa yang digunakan tidak rumit dan mudah dimengerti sehingga sesuai untuk umur remaja ataupun yang lebih tua. Kesimpulan, buku ini sangat menarik untuk dibaca dan begitu banyak pelajaran mengenai hidup yang dapat diambil dari buku ini. Tidak lupa, dengan membaca buku ini, kita akan semakin bangga dengan Indonesia kita ini karena angklung yang hanya dari sebuah bambu dapat menaklukan hati para warga Eropa.


Informasi Buku
Judul : 40 Days In Europe, Kisah Kelompok Musik Indonesia Menaklukan Daratan Eropa
Nama pengarang : Maulana M. Syuhada
Penerbit : PT. Bentang Pustaka
Tahun Terbit : 2007
Cetakan : Kedua
Harga : Rp 55.000,00

untuk mendownload ebooknya, silahkan klik disini
sumber resensi: _http://arindablog.wordpress.com/

Sunday, February 13, 2011

Novel Surat Kecil untuk Tuhan
Kisah Nyata Gadis Berusia 13 Tahun Bertahan Hidup Dari Kanker Ganas Paling Mematikan Di Dunia
Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku tidak ingin ada tangisan di dunia ini.
Tuhan…
Andai aku bisa kembali
Aku berharap tidak ada lagi hal yang sama terjadi padaku,
Terjadi pada orang lain

Cuplikan di atas adalah sepenggal bait dari tulisan Keke, seorang penderita kanker ganas yang menyerang bagian wajah, Rabdomiosarkoma atau kanker jaringan lunak pertama di Indonesia. Keke atau Gita Sesa Wanda Cantika adalah seorang gadis remaja berusia 13 tahun ketika divonis memiliki penyakit kanker mematikan tersebut yang dapat membunuhnya dalam waktu 5 hari. Kanker jaringan lunak itu menggerogoti bagian wajahnya sehingga terlihat buruk menjadi seperti monster. Walau dalam keadaan sulit, Keke terus berjuang untuk tetap hidup dan tetap bersekolah layaknya gadis normal lainnya.

Mendengar vonis tersebut, sang Ayah, Joddy Tri Aprianto tidak menyerah. Ia terus berjuang agar sang putri kesayangannya itu dapat terlepas dari vonis kematiannya. Perjuangan sang ayah dalam menyelamatkan putrinya tersebut begitu mengharukan.

Perjuangan panjang Keke dalam melawan kanker ternyata membuahkan hasil. Kebesaran Tuhan membuatnya dapat bersama dengan keluarga serta sahabat yang ia cintai lebih lama. Keberhasilan Dokter Indonesia dalam menyembuhkan kasus kanker yang baru pertama kali terjadi di Indonesia ini menjadi prestasi yang membanggakan sekaligus membuat semua dokter di dunia bertanya-tanya.

Namun kanker itu kembali setelah sebuah pesta kebahagiaan sesaat. Keke sadar jika nafasnya di dunia ini semakin sempit. Ia tidak marah pada Tuhan, ia justru bersyukur mendapatkan sebuah kesempatan untuk bernafas lebih lama dari vonis 5 hari bertahan hingga 3 tahun lamanya, walau pada akhirnya ia harus menyerah. Dokter pun akhirnya menyerah terhadap kankernya. Di nafasnya terakhir itulah ia menuliskan sebuah surat kecil untuk Tuhan. Surat yang penuh dengan kebesaran hati remaja Indonesia yang berharap tidak ada lagi air mata di dunia ini terjadi padanya, terjadi pada siapapun.

Hingga pada tanggal 25 Desember 2006, Keke menghembuskan nafas terakhirnya pada pukul 11 malam. Tepat setelah ia menjalankan ibadah puasa dan idul fitri terakhir bersama keluarga dan sahabat-sahabatnya. Namun kisahnya menjadi abadi. Ribuan air mata berjatuhan ketika biografi pertamanya ini dikeluarkan secara online. Pesan Keke terhadap dunia berhasil menyadarkan bahwa segala cobaan yang diberikan Tuhan adalah sebuah keharusan yang harus dijalankan dengan rasa syukur dan beriman.

Kisah perjuangan Keke ini pun sempat diulas dalam acara Kick Andy di Metro TV. Sebelumnya buku ini diterbitkan secara online oleh penulis, Agnes Davonar dan dibaca lebih dari 350.000 pengunjung. Namun, karena banyaknya pembaca yang terinspirasi oleh kisah ini, akhirnya buku ini dicetak secara luas dan terjual lebih dari 30.000 exemplar dalam waktu dua bulan dan telah diterbitkan pula di Taiwan dengan mencetak sukses yang sama.

Kisah Keke yang telah memasuki cetakan ketujuh ini pun akhirnya menginspirasi Skylar Pictures untuk mewujudkan pesan dan perjuanganya tersebut kepada dunia lewat layar lebar. Kita tunggu saja kemunculannya di bulan Februari 2011. Salam inspirasi.

Informasi Buku
Judul : Surat Kecil Untuk Tuhan
Penerbit : Inandra Publisher
Penulis : Agnes Davonar
Kategori : True Story
Cetakan : ke-8
Tebal : x + 232 Halaman

Download ebook ini DISINI [Jangan lewatkan]

Sunday, November 14, 2010

Mitos-Mitos Seputar Filsafat 
Konon, filsafat itu amat sulit. Sedikit sekali orang yang mampu mempelajarinya. Bahkan, kata orang, jangan terlalu serius belajar filsafat! Bila otak tidak kuat, jangan-jangan kita menjadi gila karenanya! Buat apa mengambil risiko ini, padahal konon filsafat itu sesuatu yang abstrak, jauh dari kehidupan kita sehari-hari? Hmm, memang ada banyak mitos mengenai filsafat seperti itu. Malahan mitos-mitos itu beredar tidak hanya di kalangan awam.

Sebagian agamawan berpandangan, memegang erat-erat kitab suci sebagai pegangan hidup sudah lebih dari cukup, sehingga filsafat yang tidak menjanjikan kebenaran-mutlak tidak diperlukan. Sebagian ilmuwan mengira, mereka berkewajiban untuk melepaskan diri secara total dari filsafat untuk mempertahankan keilmiahan mereka. Sebagian seniman merasa, filsafat tidak akan membantu kita dalam menikmati keindahan. Sebagian usahawan bilang, filsafat hanya membuang waktu karena tidak akan menghasilkan laba.

Dalam buku ini, Stephen Palmquist berusaha mempertanyakan mitos-mitos yang seperti itu. Secara tersirat ia mengatakan, semua orang yang berakal sehat bisa mempelajari filsafat dan bahkan mampu berfilsafat! Dalam beragama ada filsafatnya, dalam bersantap fried chicken pun ada filsafatnya. Begitu pula dalam berilmu, berpolitik, berbahasa, berbisnis, dan lain-lain.

Secara demikian, apakah Palmquist menyarankan agar kita membabat habis segala mitos? Sama sekali tidak. Ia justru menyatakan, ada beberapa mitos yang tidak bisa dilenyapkan. Bahkan, filsafat pun membutuhkan mitos tertentu. Ada banyak mitos yang memiliki potensi yang dahsyat. Apabila dibudidayakan dengan cara sebaik-baiknya, mitos itu bisa memberi hasil positif yang luar biasa. Umpamanya, mitos bahwa “filsafat itu laksana pohon”.

The Tree of Philosophy sebagai Mitos Menyajikan filsafat dalam bentuk mitos adalah sesuatu yang unik. Dengan cara ini, filsafat yang terkesan rumit dan tidak beraturan dapat disampaikan dengan gambaran yang sangat sistematis dan sekaligus seutuhnya. Hubungan antarunsur filsafat pun bisa ditata dengan rapi.

Hal itu penting karena uraian yang tidak utuh, sepenggal-sepenggal, dan tidak teratur, meloncat-loncat, cenderung menyesatkan pembacanya, terutama kalangan pemula. Dalam penggunaan itu, The Tree bisa dibilang sukses dalam menjalankan fungsinya sebagai mitos, setidak-tidaknya pada diri saya dan barangkali pada hampir semua mahasiswa yang memanfaatkan buku ini.

Akan tetapi, sesungguhnya saya pada pandang pertama kurang tertarik akan buku ini ketika melihat judulnya, The Tree of Philosophy (Pohon Filsafat). Kata “pohon”, bagi saya, menyiratkan sesuatu yang cenderung statis--sesuatu yang kurang saya sukai waktu itu tatkala saya berada dalam suasana euforia reformasi. Namun setelah mulai membaca isinya, saya agak tercengang. Ternyata filsafat yang digambarkan di sini merupakan suatu disiplin yang statis (kokoh) dan sekaligus dinamis (berkembang)!

Saya berasumsi, sebagian besar dari pembaca edisi Indonesia ini pun memiliki mitos tertentu tentang pohon. Bila saya menerjemahkan judul The Tree of Philosophy secara harfiah, yakni “Pohon Filsafat”, saya khawatir bahwa anda pada pandang pertama akan berprasangka negatif dan karenanya enggan membuka-buka buku ini lebih lanjut. Oleh sebab itu, saya mengubah judul itu, sepersetujuan penulis asli, menjadi Filsafat Mawas (The Perspectival Philosophy).

Filsafat Mawas di Antara Pengantar Filsafat Lainnya 
Secara garis besar, kelihatannya ada lima jenis pendekatan utama yang dipakai dalam pembelajaran Pengantar Filsafat (Filsafat Umum atau Filsafat Barat).

Yang kesatu adalah pendekatan historis dengan berbagai variasinya. Metode ini sering dipandang baik bagi pemula. Dalam pendekatan ini, pemikiran para filsuf terpenting dan latar belakang mereka dipelajari secara kronologis. Contoh pemanfaat pendekatan historis yang baik ialah Jostein Gaarder, Sophie’s World.

Yang kedua adalah pendekatan metodologis. Cara ini dipandang penting mengingat bahwa cara terpenting untuk memahami filsafat adalah berfilsafat. Dalam pendekatan ini, berbagai metode berfilsafat ditimbang-timbang, kemudian metode yang dipandang terbaik diuraikan lebih lanjut untuk dapat dipergunakan sebagai pedoman berfilsafat. Contoh pemakai pendekatan metodologis yang baik ialah Mark B. Woodhouse, A Preface to Philosophy.

Yang ketiga adalah pendekatan analitis dengan berbagai variasinya. Metode ini memandang bahwa tugas utama pengantar filsafat adalah menjelaskan unsur-unsur filsafat. Dalam pendekatan ini, isi filsafat diuraikan secara sistematis dan diterangkan segamblang-gamblangnya. Contoh pengguna pendekatan analitis yang baik ialah Louis O. Kattsoff, Elements of Philosophy.

Yang keempat adalah pendekatan eksistensial. Metode ini memandang bahwa tugas utama pengantar filsafat adalah memperkenalkan jalan-hidup filosofis tanpa terbelenggu oleh sistematikanya. Dalam pendekatan ini, tema-tema pokok filsafat didalami dengan harapan bahwa pembacanya akan dengan sendirinya memperoleh gambaran tentang filsafat yang seutuhnya. Contoh penerap pendekatan eksistensial yang baik ialah A.C. Ewing, The Fundamental Questions of Philosophy.

Masing-masing dari pendekatan-pendekatan tersebut memiliki keunggulan dan kelemahan sendiri-sendiri. Untuk memaksimalkan keunggulan-keunggulannya dan meminimalkan kelemahan-kelemahannya, agaknya yang terbaik adalah yang kelima, pendekatan terpadu. Metode ini mensintesis berbagai pendekatan sekaligus dalam satu buku saja. Contoh pelaku pendekatan terpadu yang baik ialah Stephen Palmquist, The Tree of Philosophy!

Untuk mendownload buku/ebook ini siilahkan klik DISINI

Friday, October 15, 2010

Toto Chan : Gadis Cilik di Jendela adalah novel karya penulis Jepang Tetsuko Kuroyanagi, ia mengisahkan tentang masa kecilnya di sekolah Tomoe Gakuen (sekolah alternatif yang didirikan seorang pendidik hebat Sosaku Kobayashi). Buku ini dimulai saat ibunda Toto-chan datang memenuhi panggilan pihak sekolah negeri di mana putrinya belajar.

Saat ia mengetahui bahwa putrinya dikeluarkan dari sekolah dia menyadari bahwa Toto-chan membutuhkan sekolah dimana kebebasan berekspresi diperbolehkan. Lalu ia membawa Toto-chan menemui Bapak Kobayashi, kepala sekolah di sekolah barunya. Sejak saat itulah hubungan persahabatan dimulai antara guru dan murid.

Semua impresi yang didapat dalam pengalamannya di Sekolah Tomoe Gakuen --teman-teman yang dimiliki, pelajaran yang didapat, dan semua kejutan dan hubungan dengan orang-orang di sekolah -- diceritakan melalui sudut pandang seorang anak. Pembaca dapat merasakan betapa dunia yang biasa-biasa saja diterjemahkan menjadi lingkungan indah tempat berbagai peristiwa menyenangkan penuh semangat terjadi.

Pembaca juga dapat melihat dalam peran mereka sebagai orang dewasa, bagaimana Bapak Kobayashi memperkenalkan kegiatan-kegiatan baru untuk menarik minat murid-murid. Seseorang dapat melihat bahwa Bapak Kobayashi adalah seorang yang memahami anak-anak dan peduli pada perkembangan kualitas intektual, fisik, dan mental. Kepeduliannya pada anak-anak yang cacat fisik dan penekanan bahwa semua murid adalah sama benar-benar luar biasa.Di sekolah ini, murid-murid dituntun untuk menjalani kehidupan yang bahagia, tidak memperdulikan apa yang terjadi di luar sana.

Perang Dunia II telah dimulai, namun tanda-tandanya tidak terlihat di sekolah ini. Namun suatu hari sekolah ini dibom dan tidak pernah dibangun kembali, meskipun kepala sekolah berjanji akan membangun sekolah yang lebih baik di masa depan. Janji itu tidak pernah terpenuhi dan inilah akhir dari tahun-tahun Toto-chan sebagai murid di Tomoe Gakuen.Toto-chan pertamakali diterbitkan di Jepang sebagai sebuah artikel berseri dalam majalah wanita muda ''Kodansha'' bulan Pebruari 1979 sampai Desember 1980. Artikel-artikel itu kemudian dikumpulkan menjadi buku dan menciptakan sejarah dengan penjualan 4.500.000 kopi hanya dalam satu tahun.Edisi Bahasa Inggrisnya dialihabahasakan oleh Dorothy Britton,diterbikan di Amerika tahun 1982.

Buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Cina, Korea, Malaysia, Vietnam, Indonesia, Thailand, Rusia, Sinhala, dan Lao serta beragam bahasa India.Mekipun berpuluh tahun berlalu, pesona Toto-chan dan sahabat baiknya kepala sekolah Sosaku Kobayashi tetap mengisi pikiran pembaca. Buku ini sangat baik bagi para guru dan orang tua --mendidik dan sangat menginspirasi. Dunia anak sangatlah indah dan adalah kesalahan besar mengisinya dengan perlakuan tidak adil yang menilai karakter ataupun kreativitas anak hanya dengan satu parameter. Toto-chan yang semula dianggap murid pemberontak dan susah diatur, menemukan keindahan masa kecilnya di Tomoe Gakuen, sekolah kehidupan berbentuk gerbong kereta dan guru tamu seorang petani.

Silahkan download disini

Sunday, September 19, 2010

Novel Padang Bulan sebagai novel pertama pada dwilogi Padang Bulan masih mengusung tema pergulatan seseorang yang tidak kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup (lebih banyak diceritakan pada Cinta di Dalam Gelas) dibandingkan pada Padang Bulan. Kenyataan yang dialami oleh sebuah keluarga miskin menjadi sasaran yang memang empuk untuk sebuah drama, dan salah satu keluarga yang dramatis itu adalah keluarga Zamzami (ayah Enong).
Enong dengan nasib yang kurang beruntung (di mata banyak orang yang mengutamakan uang dari segala hal), menjadi tokoh yang dihadirkan untuk mengaduk zat kimiawi dalam hati para pembaca, semangat hidupnya, semangat belajarnya dan semangat perempuannya sungguh mengagumkan.

Himpitan kemiskinan bukan batu sandung bagi Enong (nama kecil Maryamah), tersebut dia masih memiliki resolusi hidup atau semacam life list (hal-hal penting yang ingin mereka capai dalam hidup) yang justru melampaui status/kondisi sosialnya. Bayangkan seorang  perempuan (pertama) penambang timah tradisional memiliki keinginan dan kegigihan yang tinggi untuk belajar Bahasa Inggris. Meskipun untuk itu dia harus menempuh jarak sejauh 100 km di akhir pekan ke tempat kursus.

Kesan yang mendalam dan mengaduk-aduk emosi justru kita temukan di awal, Mosaik 1 yang berjudul Lelaki Penyayang. Dari sebuah narasi menggelikan yang membuat kita terkekeh (terutama jika kita pernah menaksir lawan jenis di usia remaja) berakhir dengan tragedi menyedihkan yang mebuat mata kita berkaca-kaca. Kejutan yang seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi sebuah keluarga sederhana justeru berubah menjadi kejutan akibat malapetaka.

Seperti yang dikatakan Andrea Hirata ini adalah novel kultural yang hendak memotret kehidupan orang Melayu (Belitong). Hal itu tergambar secara sempurna dalam novel kedua Cinta di Dalam Gelas. Orang Melayu yang memiliki budaya lisan sangat tinggi menemukan tempat yang pas untuk “melestarikan” budaya tersebut di warung kopi. Lihatlah bagaimana penasarannya seorang isteri tentang rasa kopi dari warung kopi yang katanya lebih enak dari kopi buatannya. Kemudian diam-diam dia membeli kopi dari warung kopi dan membawanya pulang dengan harapan suaminya tidak ngopi di warung. Tapi apa kata suaminya, kopi tersebut tidak seenak kopi buatan warung kopi.

Di novel kedua inilah Maryamah mendapatkan nama belakang Karpov karena memakai metode pertahanan permainan catur ala Anatoly Karpov. Maryamah memakai permainan catur sebagai medium perlawanan terhadap hegemoni atau kesewenang-wenangan kaum lelaki terhadap dirinya di masa lalu. Perlawanan ini menempatkan Maryamah pada jajaran perempuan ideal yang bertarung dengan gaagah berani guna membuktikan eksistensi dirinya.
Dalam novel kedua, Cinta di Dalam Gelas, romantika Ikal dan A Ling digantikan oleh romantisme keluarga Maryamah, berikut beberapa petikan yang sangat manis;

“Jika kuseduhkan kopi, ayahmu menghirupnya pelan-pelan lalu tersenyum padaku”. Meski tak terkatakan, anak-anaknya tahu bahwa senyum itu adalah ucapan saling berterima kasih antara ayah dan ibu mereka untuk kasih sayang yang balas membalas, dan kopi itu adalah cinta di dalam gelas.

Friday, September 3, 2010

Kalian adalah laskar mawarku yang akan meluluhlantakkan tank-tank Israel!” seru Yasser Arafat pada pagi 27 Januari 2002.

Sore harinya, untuk pertama kalinya seorang perempuan melakukan aksi bom bunuh diri. Perlawanan rakyat Palestina memasuki babak baru.

Dalam derita penjajahan Israel, telah lama perempuan Palestina menjadi pejuang yang tangguh dan tabah. Mereka adalah anak yang menyaksikan ayahnya ditawan, istri yang merelakan suaminya hilang tanpa jejak, ibu yang menguburkan putranya. Namun, sejak hari itu, sebagian perempuan Palestina menempuh jalan perjuangan baru. Mereka memilih meledakkan diri sebagai “laskar mawar”.

Barbara Victor, seorang jurnalis spesialis Timur Tengah dan isu-isu perempuan, mengajak kita menyelami kehidupan perempuan-perempuan pelaku bom bunuh diri itu. Dia meninjau berbagai aspek yang sering tenggelam dalam sensasi berita: kultur, psikologis, dan sosiologis perempuan Palestina.

Barbara membawa kita menyimak kisah-kisah getir dan konflik-konflik yang membuat “mawar-mawar” ini memilih untuk menggugurkan kelopak mereka sendiri dalam sebuah dentuman yang menyentakkan dunia yang tak mengizinkan mereka mekar.

Judul Laskar Mawar : Drama Perempuan-Perempuan Pelaku Bom Bunuh Diri di Palestina (Edisi baru)
No. ISBN 9789794335147
Penulis Barbara Victor
Penerbit: Mizan
Tanggal: terbit Juni - 2008

Wednesday, September 1, 2010

Review Buku Kembang Kertas; Ijinkan Aku Jadi Lesbian karya Eni Martini

Mengangkat tema lesbian (atau baca juga: homoseksualitas) sebagai sebuah karya Sastra bukan lagi sesuatu yang sulit dijumpai. Karenanya kehadiran buku-buku bertema lesbian dan homoseksual patutlah dihargai sebagai ekspresi demokratik yang lama ditindas selama Orde Baru berkuasa. Buku berjudul Kembang Kertas; ijinkan aku jadi lesbian karya Eni Martini adalah salah satu bentuk maraknya wacana seks sesama jenis.

Novel berjudul Kembang Kertas-Ijinkan Aku Menjadi Lesbian- karya Eni Martini. Kembang Kertas bercerita seorang perempuan keturunan Ningrat Yogyakarta, cantik, berpendidikan tinggi, lulusan Amerika Serikat, namun orientasi seksualnya adalah lesbian. Perempuan cantik yang lesbi ini bernama Kartini, dan juga lebih suka dipanggil Kartini saja dari pada panggilan keningratan, setidaknya mengingatkan kita pada tokoh Kartini, putri yang memberontak dari Jepara itu. Hanya sayangnya, di tengah gerakan yang meluas untuk demokratisasi di segala bidang, termasuk penghargaan terhadap hak-hak demokratik kaum LGBT itu, Eni Martini terasa tak sanggup mengikutinya. Justru yang tampil adalah Kartini yang berjiwa naif, kekanak-kanakan, mencoba menerima nasib walau menderita dengan alasan karena lahir sebagai putri ningrat yang harus berusaha tunduk pada unggah-ungguh- adat-istiadat- dan menjaga kewibawaan Orang Tua.

Di Amerika, tempat Kartini bebas hidup sebagai lesbian bersama kekasihnya Juliet, justru hanya menjadi seakan mimpi yang tak akan mungkin dapat diraihnya di sini dan sekaligus dapat diperjuangkan di sini. Karenanya Kartini dalam novel Kembang Kertas, Eni Martini justru menjadi perempuan fatalis dan dalam kaca mata terpelajar menjengkelkan: childish. Ia yang berpendidikan tinggi dan berpengalaman sebagai lesbian di Amerika Serikat, justru tak sanggup mengekspresikan dirinya dengan lebih terbuka atau setidaknya membangunkan gerakannya seperti yang sudah kelihatan tumbuh.

Militansinya tentu tak seperti Kartini yang bisa mengatakan Habis Gelap Terbitlah Terang…seperti juga digambarkan dengan baik dalam film Kartini, sutradara Sjumandjaja tahun 1982; atau sungguh menolak ornament kebangsawanannya: Panggil Aku Kartini Saja seperti yang telah banyak diulas Pramoedya Ananta Toer. Kartini, Eni Martini, justru kabur dari kondisi obyektif yang membelenggunya, meninggalkannya tanpa perlawanan dan kembali ke Amerika Serikat yang dirasa lebih terbuka dan bebas menerima orang-orang seperti dirinya.
Keberaniannya hanya ditunjukkan dengan pengakuan yang jujur bahwa dirinya sebagai lesbian yang tak suka tiyang jaler (lelaki) di hadapan Orang tuanya. Dan setidaknya juga pembelaan terhadap Nadia, teman sekerjanya, yang dulunya sering mendapat penghinaan karena lesbi, berkat pembelaannya yang singkat bahwa Lesbian juga manusia, akhirnya dapat menyadarkan banyak teman kerja untuk menerima Nadia apa adanya. Subjudul novel ini sendiri sebenarnya sudah menunjukkan kelemahan posisi: Ijinkan Aku Menjadi Lesbian…? Mengapa harus minta ijin? dan siapa yang berhak dan harus mengijinkan? Bila pilihan demokratiknya seperti itu..?

Novel Kembang Kertas tak terlalu sulit untuk dibaca dan dicerna. Alurnya sederhana dengan bahasa dan kata-kata sederhana sehingga dapat dibaca dengan cepat. Kelemahannya yang mencolok adalah pada buruknya pengeditan. Masih banyak kata-kata yang ditulis dengan huruf yang salah. Di samping itu, penggunaan subyek dan predikatnya dalam kalimat kadang mengganggu dan tidak mengenakkan selera membaca.

Pada alinea pertama, halaman 1, pembaca dapat melihat kalimat yang berantakan tak tersusun dengan baik. Misalnya: “Sudah lama Kartini tidak berbaur dengan keluarga, famili dan teman-temannya dalam suasana pesta adat Jawa yang penuh ungah-ungguh, tata krama.” (seharusnya Unggah). Kalimatnya selanjutnya begitu jelek seperti tak mengenal hukum subyek dan predikat dengan baik: “Maka saat Si’Bu mengadakan pesta kecil-kecilan, atau lebih sering disebut selamatan oleh masyarakat Jawa. Pesta dalam rangka menyambut kedatangannya dari Boston, serta syukuran atas selesainya studi dia. Kartini cukup antusias menyambutnya, karena selain akan bertemu dengan orang-orang yang dicintai. Ada pesta, pasti ada kue tradisional aneka ragam. Serabi, nogosari, cenil, lemper, klepon, dan kue-kue jajan pasar lainnya.”

Eni Martini, lahir di Jakarta tahun 1977, novel-novel sebelumnya yang telah diterbitkan antara lain: Sehelai Daun Kapuk Randu (2003), Relasi Kata Tanpa Rupa (2005), Miss Diena The Series (2006) dan Benang Tiga Perempuan (2007). Di atas kelemahan tata bahasa dan salah-salah huruf, Novel ini setidaknya memberikan fakta adanya kehidupan lesbian yang masih tertindas secara, sosial, kultural dan politik. Karenanya buku ini juga layak untuk diketahui dan dibaca sebagai sikap moral sehingga bisa menemukan jalan keluar yang…, meminjam kata-kata seruan perlawanan Nyai Ontosoroh, Pramoedya Ananta Toer, … Sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Untuk memiliki buku Eni Martini ini secara gratis, silahkan Download Disini

Review ini disunting dari resensi buku dengan judul resensi  Fatalisme “Kartini” Kembang Kertas oleh AJ Susmana.

Tuesday, August 31, 2010

Judul resensi asli: Romantisme Tragis Dibalik Perang Bubat
 
Perang Bubat (buku Gajah Mada 4 oleh Langit Kresna Hariadi) adalah salah satu tonggak sejarah yang amat penting, kisahnya menjadi pewarna perjalanan Nusantara. (Perang Bubat) Perang yang mengawali kehancuran Majapahit itu menyisakan luka yang amat dalam bagi Jawa dan Sunda. Ini adalah akhir konflik kerajaan Majapahit dan Sunda Galuh, sekaligus kesalahan fatal Mahapatih Gajah Mada di akhir karier-nya yang gilang gemilang.

Sumber permasalahannya sebenarnya adalah kecantikan yang membawa luka. Adalah seorang sekar kedaton Sunda Galuh bernama Dyah Pitaloka Citraresmi memiliki kecantikan yang luar biasa yang terdengar hingga pelosok nusantara. Pada saat itu pula, Prabu Hayam Wuruk sudah cukup umur untuk memiliki seorang permaisuri. Tim intelijen dikerahkan untuk mencari gadis cantik yang cocok dijadikan isteri sang raja, dan salah satunya adalah Dyah Pitaloka.

Namun demikian, ketika antar keluarga saling menyetujui, Mahapatih Gajah Mada memiliki pemikiran lain. Ia memandang bahwa Sunda Galuh harus takluk saat itu juga dan Dyah Pitaloka dianggap sebagai putri seserahan, bukan sebagai calon isteri yang berderajat sama. Perang berkobar yang berujung pada bunuh dirinya Dyah Pitaloka, menyebabkan konflik pribadi Prabu Hayam Wuruk dengan Gajah Mada.

Mengapa Dyah Pitaloka Sampai Bunuh Diri?
Nampaknya tidak ada sumber sejarah yang menerangkan hingga detail apa motivasi Dyah Pitaloka bunuh diri. Pemahaman umum yang berkembang adalah karena putus asa karena semua keluarganya yang bertempur dengan gagah berani telah dibunuh pasukan Bhayangkara Majapahit. Celah ini, seperti ketika novel-novel bercerita tentang kisah cinta Gayatri (permaisuri Rajapatni — isteri Raden Wijaya/Kertarajasa Jayawardhana), dimanfaatkan oleh penulis untuk memasukkan drama romantis yang tragis.

Langit Kresna Hariadi, dalam novel Perang Bubat, mengisahkan bahwa Dyah Pitaloka sebenarnya sudah terlanjur jatuh cinta kepada seorang rakyat jelata bernama Saniscara. Saniscara telah menumpahkan perasaan cintanya dengan cara yang paling mengagumkan yang bisa dibayangkan wanita mana pun: lukisan. Goresan-goresan dalam kanvasnya ditorehkan dengan penuh gairah. Dan ternyata cinta yang paling murni dari dua anak manusia ini bersambut, tetapi tidak mungkin bersatu karena faktor politik dan kedudukan serta derajat yang berbeda. Ini memberikan ruang bagi pembaca untuk bereksplorasi tentang apakah cinta harus dihalangi oleh norma-norma seperti itu.

Saya membayangkan, biar bagaimanapun juga, Dyah Pitaloka adalah seorang putri raja. Saya membayangkan ia adalah gadis yang dewasa (kenapa novel selalu melukiskan putri raja itu cantik dan manja?). Ia menyadari ia adalah kunci politik yang berharga dalam hubungan diplomatik dua negara. Jika pernikahannya dengan Prabu Hayam Wuruk bisa menyelamatkan Sunda Galuh dari posisi takluk sebagai negara jajahan, ia akan menekan segala perasaan dan mengutamakan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan cinta pribadinya. Toh, Prabu Hayam Wuruk kan raja yang tampan juga.

Jika ternyata kemudian ia telah ditelikung, dicurangi oleh Mahapatih Gajah Mada, dan keluarganya habis terbunuh, harga dirinya lah yang membuat ia lebih baik mati daripada harus menjadi putri seserahan. Jika keluarganya telah bersikap patriotik heroik, mengapa ia tidak melakukan jalan yang sama? Berdasarkan ini, saya memaklumi putri Sunda yang cantik itu mengambil keris kecil dan menusuk dadanya sendiri.

Tinggal Prabu Hayam Wuruk yang termenung sendirian. Ia memang telah dibakar oleh cinta pada pandangan pertama. Bagaimana pun juga, ia adalah negarawan yang masih berusia pemuda. Masih bergejolak. Itulah awal konfliknya dengan Gajah Mada. Dan mundurnya Gajah Mada dari kancak politik membuat Majapahit tidak menemukan negarawan sehebat dirinya. Itulah awal kemunduran kejayaan Majapahit yang akhirnya runtuh dan digantikan rezim kerajaan-kerajaan Islam (Demak Bintoro).

Sumber resensi dari Sini
 
Download Ebook Gratis Disini

Alif lahir di pinggir Danau Maninjau dan tidak pernah menginjak tanah di luar ranah Minangkabau. Masa kecilnya adalah berburu durian runtuh di rimba Bukit Barisan, bermain bola di sawah berlumpur dan mandi di air biru Danau Maninjau. Tiba-tiba saja dia harus naik bus tiga hari tiga malam melintasi punggung Sumatera dan Jawa menuju sebuah desa di pelosok Jawa Timur. Ibunya ingin dia menjadi Buya Hamka walau Alif ingin menjadi Habibie. Dengan setengah hati dia mengikuti perintah Ibunya: belajar di pondok.

Di kelas hari pertamanya di Pondok Madani (PM), Alif terkesima dengan "mantera" sakti man jadda wa jada. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Dia terheran-heran mendengar komentator sepakbola berbahasa Arab, anak mengigau dalam bahasa Inggris, dan terkesan melihat pondoknya setiap pagi seperti melayang di udara.

Dipersatukan oleh hukuman jewer berantai, Alif berteman dekat dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Di bawah menara masjid yang menjulang, mereka menunggu Maghrib sambil menatap awan lembayung berarak pulang ke ufuk. Di mata belia mereka, awan-awan itu menjelma menjadi negara dan benua impian masing-masing. Kemana impian membawa mereka? Mereka tidak tahu. Yang mereka tahu adalah: Jangan pernah remehkan impian, walau setinggi apa pun. Tuhan sungguh Maha Mendengar.

Bagaimana perjalanan mereka ke ujung dunia ini dimulai? Siapa horor nomor satu mereka? Apa pengalaman mendebarkan di tengah malam buta di sebelah sungai tempat jin buang anak? Bagaimana sampai ada yang kasak-kusuk menjadi mata-mata misterius? Siapa Princess of Madani yang mereka kejar-kejar? Kenapa mereka harus botak berkilat-kilat? Bagaimana sampai Icuk Sugiarto, Arnold Schwarzenegger, Ibnu Rusyd, bahkan Maradona sampai akhirnya ikut campur? Ikuti perjalanan hidup yang inspiratif ini langsung dari mata para pelakunya. Negeri Lima Menara adalah buku pertama dari sebuah trilogi.

Monday, August 30, 2010

Seorang wanita yang dikenal bernama Lidya, putri Komisaris Besar Densus Antiteror, terbunuh di kamar hotel esek-esek di Jakarta. Riantono, sang ayah, sangat murka. Dari tanda piramid yang terukir di ulu hati Lidya, dia mencurigai pembunuh putrinya adalah Kelompok Patriotik Radikal (KePaRad) yang ingin membalas dendam.
KePaRad diincar polisi setelah menyebarluaskan pesan bernada subversif di dunia maya. Mereka menyatakan Indonesia yang sudah terlalu korup harus segera dibubarkan dan digantikan dengan Negara Kelima. Bertekad segera membekuk mereka, Riantono menginterogerasi dua tersangka KePaRad yang berhasil dibekuk. Namun keduanya hanya memberikan teka-teki lima negara yang membuat polisi semakin bingung. Akibat dugaan keterlibatan anggota teroris, kasus pembunuhan yang seharusnya ditangani Inspektur Satu Rudi Djatmiko dari bagian Reserse diambil alih Detsus Antiteror.
Tetapi Rudi tidak menyerah begitu saja dan terus menyelidikinya secara pribadi. Namun sayang, belum sempat Rudi berbuat banyak, nasibnya berakhir sama dengan Lidya, dibunuh! Timur Mangkuto, polisi bagian data Detsus Antiteror, dituduh sebagai pembunuh Rudi yang merupakan sahabatnya sendiri. Demi untuk membalaskan kematian sahabatnya dan membersihkan namanya dari tuduhan pembunuhan, Timur Mangkuto bersama bekas pacar Rudi, Eva Duani seorang sejarawan, berusaha menyelidiki kasus pelik ini dengan memecahkan teka-teki lima negara KePaRad.
Dari penyelidikan tersebut, mereka menarik kesimpulan mengejutkan, wilayah Indonesia ternyata adalah bagian dari Atlantis yang telah tenggelam ribuan tahun silam. Dari sini semuanya menjadi sangat menarik. Dengan menggunakan pengetahuan sejarah, geografis, logika dan imajinasinya yang kuat, Es Ito (sang penulis) berhasil menghubungkan legenda Yunani, mitos Atlantis, serta sejarah Nusantara kuno seperti Sriwijaya dan Majapahit.
Dengan meyakinkan dia menyatakan bahwa nenek moyang suku Minang adalah keturunan dari Alexander Agung, Keris Empu Gandring sebenarnya bukan keris sama sekali, dan yang paling hebat adalah teorinya tentang sebab tenggelamnya Atlantis yang dinyatakan karena meletusnya Gunung Krakatau ribuan tahun silam yang memicu berakhirnya jaman Es. Walaupun saya sangat menyukai “Negara Kelima” karena kehebatan penulisnya dalam mencampur sejarah dan legenda serta kritiknya yang tajam pada kepolisian yang dinyatakan sudah terlalu kotor, tetapi ada juga bagian-bagian yang menjadi kekurangan novel ini.
Beberapa peristiwa terkesan kurang logis (seperti berhasil lolosnya Timur Mangkuto karena kegoblokan Kapolda), teka-teki yang terlalu “sejarah” sehingga sulit dipahami, penjelasan bertele-tele seputar negara kedua sampai keempat yang sebenarnya tidak terlalu berhubungan dengan inti cerita, dan endingnya yang terkesan sangat biasa sehingga mementahkan ekspektasi pembaca. However, salut buat Es Ito!!

Resensi ini disunting dari Sini
Link Download Menyusul
“Ia adalah lelaki yang baik dengan cinta yang baik. Jika kami duduk di beranda, ayahmu mengambil antip dan memotong kuku-kukuku. Cinta seperti itu akan dibawa perempuan sampai mati”

Jika dikatakan bahwa novel ini (dwilogi Padang Bulan dan Cinta di Dalam Gelas) untuk mejawab rasa penasaran sebagian besar pembaca karena kisah di dalam Maryamah Karpov tidak tuntas memang ada benarnya. Novel kedua yang berjudul Cinta di Dalam Gelas menurutku justeru lebih pantas diberi judul tersebut. Di novel inilah sepak terjang Maryamah digambarkan dengan jelas bukan hanya sekilas seperti dalam Maryamah Karpov.

Jika dibandingkan dengan tetralogi sebelumnya, dwilogi ini terasa lebih nakal. Andrea membebaskan dirinya untuk bermain-main dengan bahasa yang lebih berani. Ini bisa dimaklumi mengingat spirit awal penulisan tetralogi Laskar Pelangi adalah sebagi persembahan kepada guru tercinta mereka Bu Muslimah. Sedangkan dwilogi ini sepertinya memanfaakan momentum dan latar Laskar Pelangi sebagai dasar cerita saja sehingga Andrea memiliki sedikit beban moral untuk bersantun dalam bahasa.

Novel ini masih mengusung tema pergulatan seseorang yang tidak kenal menyerah dalam mengatasi kesulitan hidup. Dia yang sudah miskin secara struktural menjadi lebih terhimpit lagi ketika nasib tidak berpihak kepada dirinya. Ketika sandaran hidup mereka justru menginggalkan mereka maka dialah yang harus berjuang untuk melepaskan atau menahan himpitan kemiskinan tersebut.

Hebatnya diantara pergulatan melawan himpitan kemiskinan tersebut dia masih memiliki resolusi hidup atau semacam life list (hal-hal penting yang ingin mereka capai dalam hidup) yang justeru melampaui status/kondisi sosialnya. Bayangkan seorang penambang timah tradisional memiliki keinginan dan kegigihan yang tinggi untuk belajar Bahasa Inggris. Meskipun untuk itu dia harus menempuh jarak sejauh 100 km di akhir pekan ke tempat kursus.

Kesan yang mendalam dan mengaduk-aduk emosi justru kita temukan di awal, Mosaik 1 yang berjudul Lelaki Penyayang. Dari sebuah narasi menggelikan yang membuat kita terkekeh (terutama jika kita pernah menaksir lawan jenis di usia remaja) berakhir dengan tragedi menyedihkan yang mebuat mata kita berkaca-kaca. Kejutan yang seharusnya menjadi saat paling membahagiakan bagi sebuah keluarga sederhana justeru berubah menjadi kejutan akibat malapetaka.

Kisah Enong (nama panggilam Maryamah) saja sebenarnya layak dijadikan tema sentral Padang Bulan. Sementara kisah cinta Ikal dangan A Ling justeru menjadikan novel ini terasa bertele-tele. Nampaknya Andrea hendak memuaskan pembacanya sekaligus. Pertama rasa penasaran pembaca tentang Maryamah. Yang kedua akhir dari kisah cinta Ikal dan A Ling.

Bagi mereka yang belum pernah membaca Laskar Pelangi beberapa bab/mosaik akan terasa membingungkan karena dia memakai alur balik. Beberapa bab/mosaik itu menceritakan saat-saat Ikal masih bersekolah di Sekolah Dasar.

Seperti yang dikatakan Andrea Hirata ini adalah novel kultural yang hendak memotret kehidupan orang Melayu (Belitong). Hal itu tergambar secara sempurna dalam novel kedua Cinta di Dalam Gelas. Orang Melayu yang memiliki budaya lisan sangat tinggi menemukan tempat yang pas untuk “melestarikan” budaya tersebut di warung kopi. Lihatlah bagaimana penasarannya seorang isteri tentang rasa kopi dari warung kopi yang katanya lebih enak dari kopi buatannya. Kemudian diam-diam dia membeli kopi dari warung kopi dan membawanya pulang dengan harapan suaminya tidak ngopi di warung. Tapi apa kata suaminya, kopi tersebut tidak seenak kopi buatan warung kopi.

Di novel kedua inilah Maryamah mendapatkan nama belakang Karpov karena memakai metode pertahanan permainan catur ala Anatoly Karpov. Maryamah memakai permainan catur sebagai medium perlawanan terhadap hegemoni atau kesewenang-wenangan beberapa orang (lelaki) terhadap dirinya di masa lalu. Kesewenang-wenangan yang mengakibatkan trauma berkepanjangan dalam hidupnya. Dengan kemenangan dari permainan catur itulah Maryamah mengusir trauma yang menghantui hidupnya sekian lama.

Dua buah novel yang digabung menjadi satu (bundling) terhitung sebagai hal baru bagi dunia buku Indonesia, setidaknya dalam kurun terakhir ini. Dengan harga 76.500 (toko buku) atau 65.025 (toko buku online) terbilang cukup murah untuk novel yang lumayan tebal ini (lebih tebal dari Laskar Pelangi).

Resensi ini disunting dari Sini .

Sunday, August 29, 2010

“Ah, sebenarnya aku mau saja menyerahkan diri. Tetapi aku bingung, menyerahkan diri pada siapa? Sosok Negara tidak aku rasakan di Nusantara ini. Apakah ini sebuah Negara? Tidak, ini hanyalah sebuah sirkus dari pasar malam yang akan segera dilupakan. Kau melepaskan kebebasanmu jika menjadi warga Negara. Kau akan kehilangan logika jika percaya pada demokrasi dan perwakilan. Dan yang paling bodoh, kau akan kehilangan akal sehat jika member mandate pada badut-badut di senayan sana…".

Demikian sebuah pernyataan dalam percakapan antara Kalek dan Batu, Kalek mengeluarkan kata-kata itu dengan tenang sementara dia dalam kuasa Batu. Ungkapan Kalek tersebut juga menggambarkan bagaimana ke dua tokoh ini berperan dalam kisah Rahasia Meede, Batu adalah seorang Intelejen dan Kalek adalah seorang tersangka teroris.

Ke dua pemeran ini bermain atau dimainkan dengan cerdas dalam setiap kisah, ketika mereka berdua saling tarik-menarik logika kebenaran, dimana Batu sebagai Intelejen adalah penegak kebenaran dan Kalek adalah pendosa yang menebarkan anarki di pelosok Nusantara. Namun, apakah memang benar seperti itu, dimana tersangka atau pelaku teror adalah seorang penjahat yang harus diberangus, sementara aparat penegak hukum atau pembela kebenaran, adalah nabi dimana kebenaran bertumpu?.

Tentu bukan hanya mereka berdua yang tampil dalam kisah-kisah menarik perburuah harta karun peninggalan VOC, ada banyak tokoh, ada banyak manusia yang terlibat, bahkan ada banyak rentetan sejarah yang simpul-menyimpul membangun sebuah logika cerita dengan sebuah kata kunci, bahwa realitas hari ini tidak ada bedanya dengan realitas masa kolonialisme Belanda.

Terlalu banyak nama disebutkan, sehingga ada kesulitan membaca kisah-kisah menarik ini. Pada satu sudut, kita beranggapan bahwa Kalek dan Batu adalah pemeran utama, tetapi bisa saja Meede yang menjadi Pemeran Utama, walaupun dia tidak banyak dibicarakan dalam kisah ini. Setelah Ayah Meede, Pieter Erberveld, dihukum mati oleh Zwaardecron, ia menghilang dan menjadi legenda. Bisa saja Cathlen Zwinckel, seorang mahasiswa Universitas Leinden, Belanda yang melakukan penelitian tentang sejarah kolonial di Indonesia, sebagai pemeran utamanya. Yang jelas, pembaca diajak bermain dengan logika cerita yang jarang atau malah belum pernah pembaca alami sebelumnya.

Buku yang diterbitkan pertamakali pada bulan Agustus 2007 ini, telah memeras banyak keringat penulisnya, buku ini rampung dalam kerja keras selama dua tahun, dan kerja keras selama itu seharusnya terbayar lunas dengan hadirnya sebuah karya brilian yang menawarkan ekspresi baru bagi para pecinta buku bacaan, utamanya Sastra.

E.S. Ito sangat menguasai apa yang dituliskannya, dia seorang penulis dengan penampilan sejarahwan, pada sudut lain, dia menampilkan wujudnya yang lain sebagai seorang wartawan, dan secepat mungkin berubah menjadi kelompok anarki. Kebosanan kita akan bacaan cengeng yang cenderung mendramatisir keadaan dengan ungkapan puitis, terbayar dalam buku ini. Sang empunya cerita, lebih banyak menyampaikan kritik kemanusiaan, kebudayaan, politik dan pemikiran. Sang penulis, menghindari pemborosan kosa kata dengan rangkaian kalimat romantis akan kondisi atau suasana dalam kisah, ia lebih banyak menceritatakan sejarah kolonialisme VOC dan berbagai strategi pemberontakan.

Kisah-kisah pencarian rahasia Meede, dimulai dengan prolog berlatar belakang Ronde Tofel Conferentie atau lebih dikenal dengan sebutan KMB (Konferensi Meja Bundar), dalam konferensi yang dilaksanakan 24 Agustus 1949 tersebut, Indonesia ( Republik Indonesia Serikat) akhirnya berdaulat dari cengkraman Belanda. Namun, semuanya tidak selesai sampai disitu, keputusan yang merugikan delegasi Indonesia yang dipimpin oleh Bung Hatta, harus menerima kenyataan, bahwa Indonesia harus menanggung hutang Hindia Belanda sebesar 4,3 miliar gulden, setara dengan 1,13 Miliar dollar Amerika.

Dan kisah-kisah petualangan pun dimulai. Dengan menggunakan instrument sejarah kolonial, para pengejar Rahasia Meede dipandu untuk sampai pada sebuah penemuan yang mampu merusak tatanan Negara Indonesia, bahkan dunia, karena dengan penemuan itu, Dollar dapat terancam jatuh.

Alur cerita disusun dengan sangat cerdik, pembaca tidak hanya disuguhkan bacaan nikmat dan reflektif, akan tetapi diajak mengelilingi nusantara dengan pemandangan kolonialisme. Bentangan masa kolonialisme dan masa kebebasan nusantara sekarang, dihubungankan oleh sebuah tali sejarah yang menjadikan manusia Indonesia tidak boleh luput dari pengalaman buruk selama 350 tahun. E.S Ito dengan piawai menyampaikan, bahwa:

“Keuntungan Kolonial tidak lagi mengalir dari tanam paksa, tetapi dari mulut bawel manusia Indonesia lewat tarif pulsa”.
Judul Buku:Tanah Tabu
Penulis : Anindita S. Thayf

"Di ujung sabar ada perlawanan. Di batas nafsu ada kehancuran. Dan air mata hanyalah untuk yang lemah." Mabel percaya takdir akan berakhir buruk jika kita tidak menjaga langkah, apalagi bagi perempuan seperti dirinya. Tapi Mace, sang menantu, belum bisa melupakan trauma pada masa lalu. Sementara Leksi, cucu kesayangan Mabel, masih suka semaunya sendiri. Beruntung ada Pum dan Kwee yang bisa diandalkan. Bersama keduanya, si kecil Leksi berlajar menjalani hidup yang keras di atas Tanah Tabu. Dan, pada kita semua, Mabel berpesan, "Kita harus tetap kuat.... Jangan menyerah. Terus berjuang demi anak-cucu kita. Mereka harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik." 
 
Novel ini mengisahkan kehidupan masyarakat Indonesia di Papua yang tetap dijerat kemiskinan walaupun sebenarnya sumberdaya alam disana sangat kaya. Suku Dani yang digambarkan dalam novel ini yang desanya terletak tidak jauh dari perusahaan penambang emas. Namun sayang, antara kekayaan perusahaan penambang emas dengan kehidupan masyarakatnya berdiri tembok besar yang memisahkan mereka.
 
Tokoh yang dimunculkan dalam novel ini adalah sebuah keluarga yang terdiri dari Mabel, Mace (menantu Mabel) dan leksi, serta dua ekor binatang peliharaannya yaitu seekor anjing yang diberi nama Pum dan seekor babi dengan nama Kwee.

Leksi dalam cerita ini adalah seorang gadis kecil yang cerdas, yang karena kecerdasan dan keluguannya sebagai anak kecil tergambar seperti sebuah kritikan bagi pemerintah bangsa ini. Hal itu terlihat ketika dia bercerita tentang kondisi sekolahnya yang sangat memprihatinkan padahal tidak jauh dari kampungnya berdiri perusahaan besar yang mengeksploitasi kekayaan alam.
 
Kemudian tokoh Mabel, dalam novel ini juga diceritakan sebagai seorang perempuan yang cerdas yang didapatnya ketika menjadi pembantu keluarga orang asing bernama tuan Piet dan Nyonya Hermine. dirumah tuan Piet itu, Mabel punya banyak kesempatan membaca, sehingga dia punya pengetahuan lebih dibanding kebanyakan warga kampung.
 
Namun karena kecerdasannya itu Mabel sering dicurigai sebagai pemberontak sehingga pernah ditangkap, meski akhirnya dibebaskan karena tidak terbukti.
 
Kemudian tokoh Mace, adalah menantu Mabel dan ibu dari Leksi, yang dicampakkan suaminya karena pernah diperkosa oleh dua orang laki-laki asing ketika pulang dari kebun suatu siang.
 
Novel ini diceritakan dari sudut pandang Leksi, Pum dan Kwee yang menceritakan kehidupan mereka silih berganti. Membaca novel yang ditulis dengan apik dan menjadi Pemenang I sayembara Novel DKJ 2008 ini, membawa kita seolah-olah melihat kehidupan negeri kita pada umumnya. Dan ini sangat bagus untuk pencerahan pemikiran kita.
 
Download ebook belum tersedia (Mohon Maaf)
Jadi, mengapa kisah ini penting untuk kuceritakan padamu? Agar kau lebih menghargai hidup. Menghargai setiap tarikan napas. Menghargai apa pun yang dianugerahkan Raja Semesta padamu. Kau beruntung memiliki orang tua yang baik dan mengasihimu, hingga saatnya kini kau bisa hadir di dunia dan menikmati segalanya—kau beruntung memiliki hidup.

Dan pada saatnya nanti, mungkin kau akan memiliki seorang anak yang bersemayam di rahim suci perempuanmu… Bila saat itu datang, apa pun alasanmu, kumohon jangan biarkan para penghuni Kerajaan Alam Rahim bersedih dan terluka lagi: jangan sekalipun kau berpikir untuk menggugurkan kandungannya atau malah melakukannya. Jangan menodai kesucian rahim perempuanmu. Jangan lakukan itu. Kumohon.

…asal kau tahu, Rahim adalah nama lain dari Raja Semesta.
(Fahd Djibran dalam Rahim)

Link download Untuk buku ini telah tersedia, silahkan klik download button di bawah ini.


Selamat mendownload...
Laskar Pelangi, adalah novel yang sangat inspiratif, diantara uangkapan-ungkapan alimat yang disampaikan dalam buku itu, terdapat deretan semangat yang disampaikan oleh penulis buku. Andrea Hirata.

Laskar Pelangi adalah novel pertama karya Andrea Hirata yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka pada tahun 2005. Novel ini bercerita tentang kehidupan 10 anak dari keluarga miskin yang bersekolah (SD dan SMP) di sebuah sekolah Muhammadiyah di pulau Belitong yang penuh dengan keterbatasan.

Cerita terjadi di desa Gantong, Kabupaten Ganong, Belitung Timur. Dimulai ketika sekolah Muhammadiyah terancam akan dibubarkan oleh Depdikbud Sumsel jikalau tidak mendapatkan siswa baru minimal 10 anak. Parahnya, pada hari pendaftaran, cuma 9 anak yang datang pada waktu itu, dengan kenyataan seperti ini, semua yang ada di ruangan itu dengan rela menerima kenyataan ini, kecuali Bu Mus.

Drama yang terjadi, dimana kenyataan yang mereka alami di hari itulah yang menjadi akar dari cerita panjang Andrea Hirata. Hari itu, ketika pak Harfan telah berdiri dan mulai membawakan pidato penutupan sekolah, tiba-tiba kedatangan "tamu" yang telah lama ditunggu.

Dari sanalah dimulai cerita mereka. Mulai dari penempatan tempat duduk, pertemuan mereka dengan Pak Harfan, perkenalan mereka yang luar biasa di mana A Kiong yang malah cengar-cengir ketika ditanyakan namanya oleh guru mereka, Bu Mus. Kejadian bodoh yang dilakukan oleh Borek, pemilihan ketua kelas yang diprotes keras oleh Kucai, kejadian ditemukannya bakat luar biasa Mahar, pengalaman cinta pertama Ikal, sampai pertaruhan nyawa Lintang yang mengayuh sepeda 80 km pulang pergi dari rumahnya ke sekolah!

Selamat mendownload...